Beberapa Fasilitas Ramah Difabel yang Harus Ada di Tempat Wisata

Keterbatasan secara fisik bukan halangan untuk teman-teman difabel melakukan wisata. Untuk itulah perlunya fasilitas ramah difabel dijalankan agar kaum disabilitas bisa melakukan aktifitas layaknya teman-teman lain di tempat wisata.

Tempat wisata yang ramah difabel merupakan destinasi wisata yang memikirkan apa yang menjadi kebutuhan para penyandang disabilitas. Mulai dari desain dan bangunan dekonstruksi untuk memudahkan kaum difabel.

Pembangunan fasilitas bagi kaum difabel di tempat wisata memiliki tujuan agar teman-teman difabel bisa merasa nyaman dan aman saat berkunjung di tempat wisata secara keseluruhan.

5 Fasilitas Ramah Difabel di Tempat Wisata

Demi terwujudnya tempat wisata yang ramah bagi kaum difabel, berbagai fasilitas yang khusus diperuntukkan bagi kaum difabel dikelola dengan baik. Berikut ini adalah beberapa fasilitas yang ramah difabel yang ada di lokasi wisata dan wajib diperhatikan bagi para pengelola tempat wisata.

1. Tempat parkir bagi penyandang disabilitas

Destinasi wisata yang ramah terhadap kaum disabilitas harus memikirkan lahan parkir kendaraan bagi para penyandang kebutuhan khusus. Beberapa teman-teman disabilitas biasanya mengendarai motor atau mobil dengan memanfaatkan alat bantu seperti tongkat maupun kaki palsu.

Dengan pertimbangan tersebut, maka ada baiknya jika menempatkan lokasi parkir khusus difabel pada tempat yang dekat dengan pintu masuk. Jarak maksimal yang bisa memudahkan kaum difabel antara pintu masuk dan lokasi parkir adalah 60 meter.

Persyaratan lokasi parkir ini harus memenuhi beberapa pertimbangan, diantarana area parkir cukup bebas agar memudahkan kaum difabel mudah keluar masuk. Selanjutnya, area parkir harus diberi tanda simbol khusus parkir disabilitas.

Memang harus ada pertimbangan tersebut agar memudahkan teman-teman disabilitas untuk keluar masuk kendaraannya dan tidak harus berebut dengan orang lain yang tidak memiliki keterbatasan secara fisik.

2. Memiliki ramp

Ramp merupakan jalur yang dibuat untuk menuntun teman-teman disabilitas menuju ke lokasi tertentu. Idealnya memang ramp yang dipasang di tempat wisata harus mengikuti panjang jalur wisata. Dengan kemiringan maksimal 7 derajat, ramp akan lebih memudahkan teman-teman difabel untuk menuju satu titik tertentu.

Fasilitas yang dibuat untuk pengguna kursi roda ini seharusnya tidak dibuat lebih dari 9 meter dengan derajat kemiringan 7. Apabila dibuat lebih rendah, maka jalur yang dibuat lebih panjang. Yang perlu diingat adalah bahwa harus ada bordes di setiap 9 meter.

Fungsinya untuk tempat istirahat sementara bagi penyandang disabilitas. Diluar ketentuan di atas, fasilitas bordes harus diletakkan di bagian awal atau akhir dari ramp.

Permukaan dengan bertekstur kasar harus dibuat untuk menghindari terpeleset akibat hujan yang menyebabkan jalan jadi licin. Selain itu, para pengelola juga harus mempertimbangkan keamanan dengan memberikan tepian dan pegangan rambatan di sebelah kiri dan kanan.

3. Toilet Khusus Difabel

Toilet juga harus dipertimbangkan untuk memenuhi fasilitas yang ramah bagi kaum difabel. Ternyata, fasilitas toilet ini diatur dalam peraturan perundangan Kementerian Pekerjaan Umum atau Permen PU Tahun 2006 nomor 60.

Toilet khusus difabel harus memenuhi beberapa kriteria persyaratan. Toilet bagi difabel harus memiliki rambu atau simbol dengan cetak timbul, pintu toilet harus dibuat geser yang ukurannya 1,5 meter. Ruang toilet juga harus dibuat lebih luas dan lantainya tidak boleh licin.

Selain itu, pada toilet juga harus ada rambatan untuk pegangan serta tombol darurat. Ketinggian tempat duduk kloset harus setara dengan kursi roda antara 45-50 cm. Toilet juga harus dipikirkan tata letak penempatan wastafel, tisu, swore dan perlengkapan toilet lain agar lebih mempermudah teman-teman difabel menjangkaunya.

4. Loker Tiket

Bisanya, tempat wisata akan memasang barrier untuk memberikan batas antri sisi kiri dan kanan. Tak jarang bentuknya berliku dan sempit sehingga akan menyulitkan akses kursi roda untuk lewat. Demi menciptakan tempat wisata yang ramah difabel, ada baiknya batas tersebut dibuat lebih lebar seukuran kursi roda.

Sangat disarankan bagi pengelola tempat wisata untuk menyediakan loket sendiri yang khusus bagi penyandang disabilitas. Ada baiknya juga pintu masuknya khusus dan tanpa barrier agar mempermudah teman-teman difabel bisa masuk dengan nyaman.

5. Petugas dengan Bahasa Isyarat

Menyediakan petugas yang cakap dalam bahasa isyarat adalah salah satu fasilitas yang sangat ramah bagi penyandang disabilitas. Teman-teman yang memiliki keterbatasan tuna wicara, bisa dengan mudah memahami setiap penjelasan melalui bahasa isyarat.

Pengelola tempat wisata perlu memberikan pelatihan bagi beberapa petugas yang dianggap mampu untuk memberikan penjelasan kepada para penyandang disabilitas dengan menggunakan bahasa isyarat. Ini akan jadi gebrakan yang besar bagi para penyandang disabilitas karena akan sangat mudah memahami apa yang dimaksud oleh petugas di tempat wisata.

Di jaman yang serba instan ini memang kesetaraan harus diutamakan, mengingat teman-teman yang memiliki keterbatasan fisik jika mampu mengungguli kita yang sempurna secara fisik dari segi kemampuan lain dan kemauan yang kuat.

Teman-teman penyandang disabilitas juga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berwisata dan mendapatkan fasilitas ramah difabel di seluruh destinasi wisata di Indonesia.

Leave a Comment